gustiawdrsh
Logistics Performance Indeks (LPI) Indonesia 2018
LPI (Logistics
Performance Indeks)
LPI merupakan indeks kinerja logistik
negara-negara di dunia yang dirilis oleh World Bank per dua tahun sekali.
Logistik performance indeks memiliki 6 dimensi
1. Custom (Bea dan Cukai)
2. Infrastruktur (Infrastruktur)
3.
Ease of international shipments (Pengiriman barang internasional)
4.
Logistic competence and quality (Kualitas dan kompetensi logistik)
5.
Tracking and tracing (Pencarian
barang)
6.
Timeliness (Ketepatan waktu)
Analisis dimensi Logistic performance index pada tahun
2012 diindonesia
1.
Bea cukai berada diperingkat 75 dengan skor
2,53
2.
Infrastruktur berada diperingkat 85 dengan skor
2,54
3.
Pengiriman barang internasional berada
diperingkat 57 dengan skor 2,97
4.
Kualitas dan kompetensi logistik berada
diperingkat 62 dengan skor 2,85
5.
Pencarian barang berada diperingkat 52 dengan
skor 3,12
6.
Ketepatan waktu berada diperingkat 42 dengan
skor 3,61
Analisis dimensi Logistic performance index pada tahun
2014 diindonesia
1.
Bea cukai berada diperingkat 55 dengan skor
2,87
2.
Infrastruktur berada diperingkat 56 dengan skor
2,92
3.
Pengiriman barang internasional berada
diperingkat 74 dengan skor 2,87
4.
Kualitas dan kompetensi logistik berada
diperingkat 41 dengan skor 3,21
5.
Pencarian barang berada diperingkat 58 dengan
skor 3,11
6.
Ketepatan waktu berada diperingkat 50 dengan
skor 3,53
Analisis dimensi Logistic performance index pada tahun
2016 diindonesia
1.
Bea cukai berada diperingkat 69 dengan skor
2,69
2.
Infrastruktur berada diperingkat 73 dengan skor
2,65
3.
Pengiriman barang internasional berada
diperingkat 71 dengan skor 2,90
4.
Kualitas dan kompetensi logistik berada
diperingkat 55 dengan skor 3,00
5.
Pencarian barang berada diperingkat 51 dengan
skor 3,19
6.
Ketepatan waktu berada diperingkat 62 dengan skor
3,46
Analisis dimensi Logistic performance index pada tahun
2018 diindonesia
1.
Bea cukai berada diperingkat 62 dengan skor
2,67
2.
Infrastruktur berada diperingkat 54 dengan skor
2,90
3.
Pengiriman barang internasional berada
diperingkat 42 dengan skor 3,23
4.
Kualitas dan kompetensi logistik berada
diperingkat 44 dengan skor 3,10
5.
Pencarian barang berada diperingkat 39 dengan
skor 3,30
6.
Ketepatan waktu berada diperingkat 41 dengan
skor 3,67
Pendapat dan saran atas
trend score dimensi infrastruktur
Menurut worldbank, peringkat infrastuktur dalam Logistic performance
Index (LPI) di Indonesia pertama kali pada tahun 2007 peringkat 45 dengan skor
2,83 kemudian peringkat infrastuktur pada tahun 2010 mengalami penurunan yang
sangat signifikan menjadi peringkat 69 dengan skor 2,54 sedangkan pada tahun
2012 mengalami penurunan kembali menjadi peringkat 85 dengan skor 2,54 kemudian
mengalami kenaikan yang sangat signifikan pada tahun 2014 dengan peringkat 56
dengan skor 2,92 ,pada tahun 2016 mengalami penurunan kembali menjadi peringkat
73 dengan skor 2,65 kemudian pada tahun
2018 mengalami kenaikan kembali menjadi peringkat 54 dengan skor 2,90.
Namun kenaikan ini tidak diimbangi perbaikan sarana dan prasarana
infrastruktur yang baik. Masih banyak jalur
pelayaran yang tidak efektif kondisi jalan yang tidak baik kuantitas maupun
kualitas diantaranya tidak adanya hubport, infrastruktur logistik
nasional belum dikelola secara terintegrasi, efektif dan efisien hal
ini mengakibatkan belum efektifnya intermodal transportasi dan interkoneksi antara
infrastruktur pelabuhan, pergudangan,
dan transportasi. Sedangkan dari segi pelaku dan penyedia jasa logistik
rendahnya kinerja sektor ini disebabkan oleh masih terbatasnya kemampuan daya
saing pelaku dan penyedia jasa logistik nasional baik pada tataran nasional
maupun global, lemah nya jaringan nasional dan internasional dan besarnya
dominasi perusahaan-perusahaan multinasional.
Menurut pendapat saya,
terjadinya peningkatan infrastruktur yang sudah mulai
membaik sebagai hasilnya Indonesia mengalami peningkatan dalam Indeks performa
Logistik tahun 2018 ke posisi 46 dari posisi 63 dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun belum dibarengi ongkos logistik yang masih terbilang tinggi dengan negara lainnya dan
juga kinerja logistik di Indonesia belum mampu bersaing dengan negara tetangga.
Saran
saya, jika
ingin dimensi infrastruktur tidak dibawah rata-rata 3.15 maka hal yang harus
diperhatikan yaitu biaya logistik yang terlalu tinggi karena biaya logistik
yang terlalu tinggi akan menghambat pembangunan ekonomi. Oleh sebab itu,
pemerintah harus menurunkan biaya logistik di Indonesia dan juga pemerintah
harus memperbaiki kinerja logistik agar Indonesia dapat bersaing dengan negara
tetangga.
Pengaruh kondisi
infrastruktur terhadap biaya distribusi
Kondisi Insfrastuktur
saling berkaitan dengan biaya distribusi di Indonesia apabila di Indonesia
Kondisi Infrastruktur baik maka biaya distribusi akan menjadi murah dan apabila
kondisi infrastruktur belum terjangkau maka biaya distribusi akan menjadi
mahal.Ketika keadaan infrastruktur disebuah negara lemah, itu berarti bahwa
perekonomian negara berjalan dengan cara yang sangat tidak efisien. Biaya
logistik yang sangat tinggi, berujung pada perusahaan dan bisnis yang
kekurangan daya saing (karena biaya bisnis yang sangat tinggi). Biaya logistik
yang sangat tinggi indonesia bisa menyebabkan perbedaan harga yang substansial
diantara provinsi-provinsi di nusantara. Contoh, beras jauh lebih mahal di
Indonesia bagian timur dari pada jawa atau sumatera, karena biaya tambahan yang
timbul dari titik produksi ke end user. Jaringan perdagangan yang lemah di
Indonesia, baik antar pulau dan intra-pulau menyebabkan tekanan inflasi berat
pada produk yang diproduksi dalam negeri. Saat ini transportasi laut lebih
mahal daripada transportasi darat, karena infrastruktur maritim di Indonesia
belum dikembangkan secara substansial.Distribusi barang sebaiknya tidak dititik
beratkan pada distribusi penggunaan transportasi darat pemerintah harus segera
mengatur manajemen transportasi multimoda. Masih rendahnya kualitas dan
kuantitas infrastruktur transportasi yang ada dapat memperlambat waktu
pengiriman hal ini tentu saja dapat menurunkan index logistik yang ada
khususnya dari sektor infrastruktur. Peningkatan peringkat LPI diharapkan dapat
menurunkan biaya logsitik secara signifikan. Hal ini dapat menurunkan harga
produk, sehingga dapat meningkatkan biaya saing produk dan daya beli
masyarakat.
Saran atau perbaikan atas
dimensi lainnya
Ke-empat dimensi ini
memiliki hubungan yang saling berkesinambungan yaitu (Bea Cukai, Pengiriman
barang internasional, Kualitas & kompetensi logistik, dan Pencarian barang).
Sistem pertukaran data
elektronik manifest (Dokumen Muatan Barang) yang terus disempurnakan DITJEN BEA
CUKAI melalui Peraturan Menteri Keuangan no.158/2017 akan dapat memperbaiki
kinerja logistik indonesia. PMK no.158/2017 mengatur tentang penyerahan
pemberitahuan rencana kedatangan sarana pengangkut, manifest kedatangan sarana
pengangkut dan manifest keberangkatan sarana pengangkut. Kebijakan bea cukai
yang mengarah pada trade facilitation sudah tepat, sehingga dapat mempercepat
proses impor dan ekspor . Perdagangan internasional akan terakselerasi dengan
baik.
Dimensi ketepatan waktu
Dalam hal ketepatan
waktu ini sangat penting terhadap pengiriman barang/proses distribusi ke tangan
konsumen. Misalnya jika ingin mengirim barang maka ketepatan waktu ini harus
diperhatikan agar konsumen puas terhadap pelayanan yang kita berikan dan
konsumen tersebut akan memakai/menggunakan produk dari kita lagi. Dalam dimensi
ini kita perlu bekerja sama dan berintegrasi dengan pengelola transportasi,
penyedia jasa angkutan, dan pihak terkait.

Komentar
Posting Komentar